UncategorizedDecember 28, 2008 9:37 am

RUANG  WAKTU

 

Suatu sore, di sudut kota bernama Purwokerto, kota dengan ciri khas makananya yaitu kripik dan mendoan. Tak sengaja, aku bertemu sahabat lama. Yang berpisah sejak tujuh tahun lalu setamat SMA. Dia yang menyapaku lebih dulu saat berpapasan jalan. Ada yang berubah dengan penampilannya. Rambutnya panjang.

Atas desakannya aku mampir ke rumahnya. Seperti reuni kecil. Kami bernostalgia, berdua bermain gitar sampai larut malam. Cerita yang terhalang bertahun-tahun muncul lagi dalam ingatan, seperti kejadian yang baru dialami. Setelah bernostalgia, dia mulai bercerita.

“Adit pernah merasa bahwa Tuhan itu tidak adil.” dia mengawali ceritanya. Seperti dulu, dia lebih suka menyebutkan namanya sendiri daripada ‘aku’ atau ‘saya’.

“Buat Adit, hidup ini terlalu pahit. Selepas SMA begitu banyak tragedi yang menimpa. Tak sedikit pun waktu yang bisa Adit nikmati. Kau tahu kan Dani, musik adalah bagian dari hidup Adit?” sambil memetik gitarnya, dia mengajukan pertanyaan retoris. Aku mengangguk. Kuputuskan untuk menjadi pendengar yang baik. Meski berbagai masalah ingin kuceritakan juga padanya.

“Ayah melarang untuk bermain musik. Ayah ingin Adit mengikuti jejaknya. Jadi seroang pengusaha yang sukses. Tapi mama lebih membela Adit yang tetap kukuh bergelut di dunia musik. Hal inilah yang memicu pertengkaran mereka. Hampir setiap hari. Tak ada ruang waktu untuk sekedar bercanda atau bercengkrama. Apalagi setelah ketahuan kalau ayah menikah lagi.” matanya menerawang mengingat kejadian beberapa tahun silam, sebelum kemudian melanjutkan lagi ceritanya.

“Akhirnya ayah memutuskan untuk menceraikan mama. Semua harta dan perusahaan diambil alih ayah. Mama hanya pasrah kemudian pindah ke kota ini dengan memulai usaha baru yaitu membuka restoran.  Tapi buat Adit, kepergian ayah justru membuat Adit merasa bebas untuk bermain musik. Karena tak ada lagi yang menghalangi. Namun tak lama, musibah dating lagi usaha yang mama kelola mengalami bangkrut. Akhirnya mama jatuh sakit, dan lima bulan yang lalu mama meninggalkan Adit untuk selamanya.”

Diam sejenak. Lalu mulai lagi dia memetik gitarnya. Memainkan sebuah komposisi yang baru kali ini kudengar. Awalnya terdengar janggal. Perlahan komposisi yang dimainkannya itu menghadirkan suasana sendiri. Bunyi petikannya bagus, akurat, nyaris tidak tersendat-sendat. Adit sedang mengekspresikan suasana. Dia bercerita banyak lewat petikan gitar dalam komposisinya sendiri. Suasana yang kutangkap saat itu adalah sepi. Ya, “Lonelyness”. Tapi ada ketegaran. Sikap tak mau menyerah dalam suasana sepi yang terkadang bisa sangat mencekam. Aku baru menyadari bahwa di rumah ini tak ada siapa-siapa lagi selain aku dan Adit.

Komposisi berakhir. Terdengar dia menarik nafas. Hembusannya serasa memadu dengan komposisi yang baru saja selesai dimainkannya. Akhir cerita dalam komposisi itu melelahkan. Aku tahu itu adalah cermin dari hidupnya

“Kau berhasil melewati semua itu?”

“Awalnya tidak, bahkan kepergian mama sempat membuat  Adit nyaris bunuh diri. Adit sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain ayah yang sudah tidak menganggap Adit sebagai anak lagi. Saat itu Adit merasa kalut. Namun ternyata masih ada orang yang peduli dengan Adit. Kamu masih ingat dengan Diaz?”

“Tentu saja,aku tak akan lupa dengannya. Bagaimana kabarnya sekarang?” Aku tersenyum penasaran. Membayangkan musuh bebuyutanku semasa SMA. Diaz, terkenal dengan julukan preman sekolah karena segala hal yang berbau negatif menempel padanya.

“Saat Adit ingin mengakhiri hidup. Dia datang ke sini. Tadinya Adit tidak percaya. Penampilannya berubah total. Dia seperti ustad muda. Di saat-saat Adit tak punya pegangan. Dia datang di waktu yang tepat. Saat itu dia memberikan banyak pencerahan. Satu hal yang Adit takkan lupa. Dia bilang; manusia dan masalah itu seperti pantai dengan air laut. Setiap hari, setiap saat, riak gelombang air laut akan selalu menyambangi pantai. Namun sang pantai tak sekalipun lari meninggalkannya. Dia biarkan air laut itu menghampirinya lalu meninggalkan buihnya. Seperti juga kita. Janganlah lari dari setiap masalah. Sekecil apapun masalah itu pasti akan ada hikmahnya.”

“Kau yakin dengan kata-katanya itu?”

Agak lama ia terdiam, sebelum mulai lagi bercerita mengisahkan perjalanannya.

“Adit sadar, apa yang dikatakannya itu benar. Hanya saja Adit butuh sebuah ruang waktu untuk dapat melupakan semua kenyataan pahit. Butuh proses untuk memulainya dari awal. Sejak saat itu Diaz sering datang ke sini, memberi semangat hidup dan dukungan moral.”

“Dan sekarang kau mendapatkan apa yang kau cari?”

Dia tersenyum, jari-jari tangannya memetik snar gitar membentuk kunci G, sambil mencari not-not kemudian memadu nada.

“Mungkin, tapi belum sempurna. Yang pasti saat ini Adit ingin terus mewujudkan impian mama, meneruskan usahanya yang sempat terhenti. Meski Adit tidak begitu menguasai, tapi ada Diaz yang selalu siap membantu. Dan tentu saja Adit akan tetap bermain musik.”

Tak bisa kusembunyikan kekagumanku padanya. Dengan tegarnya dia berhasil melewati masa-masa sulit. Jalan hidupnya jelas beda denganku. Bahkan masalah yang ia hadapi lebih besar. Mungkin apa yang dikatakannya benar, perlu proses untuk berubah. Butuh sebuah ruang  dan waktu untuk memulai semuanya.

Aku tercenung. Melihat diri sendiri. Masalah yang kuhadapi sekarang hanyalah bagian kecil dari hidupku. Bukankah tujuan utamaku datang ke kota ini jusru dalam rangka untuk menghindari masalah? Selain aku juga ingin mengunjungi nenek. Aku marah dan kecewa. Aku tak bisa menerima kenyataan, bahwa perempuan yang selama ini aku panggil mama ternyata bukan orang yang melahirkanku. Aku hanyalah anak pungut yang diambil dari panti asuhan ketika umurku belum lagi sebulan. Orang tua kandungku sendiri tak ada yang tahu keberadaannya. Entah masih hidup atau sudah meninggal. Iulah kenyataannya.

Setelah pertemuan itu kebekuanku mencair. Aku mulai bisa menerima kenyataan. Kusempatkan untuk bertemu Diaz di sebuah restoran milik Adit. Diaz bercerita banyak tentang kehidupan ini.

“Kau tahu Dani, hidup adalah sebuah perjalanan singkat untuk menuju sebuah keabadian. Dan kita musafir. Jadi sayang kalau hidup yang sangat singkat ini tidak kita gunakan sebaik-baiknya. Adapun berbagai masalah yang dihadapi itu merupakan warna-warni kehidupan. Ibarat pelangi tak akan indah kalau hanya punya satu warna. Dan untuk menghadapi itu semua, kita hanya punya satu kata yaitu ikhlas. Ikhlas menerima segala hal yang Allah berikan untuk kita. Mungkin kau akan mencemooh kata-kataku ini, karena kau tahu, seperti apa aku dulu. Tapi percayalah, semua orang bisa berubah, termasuk aku. Mungkin aku tak lebih baik dari kamu, tapi selama ini aku selalu berusaha untuk mendapatkan kebaikan itu.”

Aku takjub mendengar kalimat-kalimatnya yang ringan mengalir. Hatiku mulai sejuk. Kalau dulu dia adalah ‘musuhku’. Kini aku percaya dengannya. Ingin rasanya terus mendengar kalimat-kalimat selanjutnya.

“Tak ada satupun manusia di dunia ini yang tak punya masalah. Kalau ingin tak punya masalah ya lebih baik tak usah hidup. Mati saja.” Ujarnya sambil tertawa. Suasana yang hadir menjadi terasa akrab.

Di sampingku, duduk Adit memetik gitarnya sambil melantunkan satu tembang milik Iwan Fals. Ibu. Tiba-tiba aku mulai merindukan ibuku.               

UncategorizedOctober 23, 2008 1:19 pm

BLINDATE 

    Sepuluh menit berlalu. Namun bayangan wajah Pak Hilmi masih melekat. Sebentuk senyum menghiasi wajahnya. Ia ingat, belakangan ini wajah dosen muda yang handsome itu selalu hadir dalam mimpinya, bahkan ketika ia sedang melamun. Dan kini tiba-tiba wajah itu muncul di hadapannya. Mendadak ia merasa ruangan ini berubah menjadi sebuah taman yang indah. Lagu ‘Kuch Kuch Hota Hai’ mengalun. Ia menjelma menjadi sosok Anjeli yang berpasangan dengan Rahul dalam film India. Ia tersenyum sendiri membayangkan adegan konyol itu.

    "Mey…!" sebuah suara memanggilnya, memutuskan alam khayalnya. Ia kaget sekaligus malu ketika menyadari Pak Hilmi sedang menatap curiga.

    "Eh…iya Pak, aduh…maaf Pak." ucapnya salah tingkah.

    "Saya cuma mau ngasih tahu, ini ada majalah Snap terbaru. Mungkin kamu mau baca?"

    "Iya Pak, tentu! Terima kasih. Mmm…Pak gimana kalau majalah ini buat saya saja?" ah, dasar Mey, dikasih hati minta jantung!

    Pak Hilmi berpikir sejenak, tapi sesaat kemudian anggukannya mampu membuat Mey nyaris melonjak kegirangan.

    "Ya sudah tidak apa-apa. Oh ya kameramu yang SLR Mamiya masih di rumah, besok saya bawa." dengan cepat Mey mengangguk, hatinya dipenuhi dengan bunga setaman.

    Di pojok kelas, Yus sahabatnya memandang dengan senyum menggoda. Dan seketika tawanya pecah begitu Pak Hilmi meninggalkan ruangan. Mey melotot sebal, tapi Yus malah mendekat dan dengan cepat majalah Snap telah berpindah tangan. Ditelusurinya lembar demi lembar. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada halaman keempat. Wajahnya berubah serius.

    "Wedding photography, apanya yang salah Yus?"

    Yus menggeleng. Mey tak mengerti.

    "Elo mau married?" tebaknya. Bukannya menjawab, Yus malah menatap Mey tajam.

    "Pulang kuliah ada yang ingin gue omongin. Penting?"

    Mey kian tak mengerti.

    *** 

    Pukul satu siang.

  Sepuluh menit berlalu. Tapi belum ada tanda-tanda Yus mau membicarakan hal penting seperti yang dikatakannya tadi. Bahkan dia iseng memberikan tebakan-tebakan tak bermutu. Mey sudah tak sabar, disapukannya pandangan ke seluruh sudut kantin kampus, seekor kucing menatap iba.

   "Mey, tahu gak apa bedanya jemuran sama telepon?" Yus mulai lagi dengan tebakannya. Mey menggeleng nyerah, bukannya tak mau berpikir, tapi ia sudah jenuh.

   "Kalau kring sama-sama diangkat…he…he…" dan terlihat jelas cengiran di mata Yus. Mey cemberut, kesal.

   Yus tersenyum. Ia tahu siapa Mey, sahabatnya sejak kecil. Tentang sifatnya, kelakuannya, kesukaanya, dan cita-citanya.

   "Mey, gue ingin elo jujur. Elo suka sama Pak Hilmi kan?" Mey seperti tersengat. Tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu secara tiba-tiba. Ia bingung. Tapi akhirnya ia mengangguk, kemudian menggeleng, dan dengan cepat mengangguk lagi.

   "Gue serius Mey, ini ada hubungannya dengan yang gue omongin nanti."

   "Kayaknya cuma orang bodoh yang gak suka sama dia." Mey nyeleneh.

   "Kalau gitu elo beneran suka sama dia?"

   "Iya, lebih dari suka malah. Mungkin rasa sayang…"

   "Trus elo ngerasa gak, kalau dia juga suka sama elo?"

   "Perasaan sih gitu, buktinya dia suka perhatian dan ngasih majalah itu."

   "Kalau cuma perhatian, bukan berarti dia suka sama elo kan? Trus soal majalah itu, dia sengaja ngasih apa elo yang minta?"

   "Lho, kok nanyanya gitu, bukannya sama aja!" Mey mulai tersinggung.

   "Konotasinya akan berbeda. Kalau dia sengaja ngasih, berarti dia emang perhatian sama elo. Tapi kalau elo yang minta, gue pikir elo mesti siap buat kecewa!"

   "Gue gak ngerti maksud lo sebenarnya apa?" Mey manatap Yus dalam, sebaliknya Yus hanya menarik nafas dalam-dalam.

   "Bulan depan dia mau nikah…"

   Mey kaget, bagai hujan petir menyambar, angin membuat pucuk-pucuk daun menari nakal.

   "Elo tahu dari mana?"

   Masih tak percaya Mey meminta penjelasan.

   "Dia sepupu gue yang di Bandung, dan sekarang ngajar di kampus kita."

   "Elo serius…?"

   "Apa gue ada tampang pembohong?" Yus balik tanya.

   Seketika lengkap sudah penderitaan Mey. Wajahnya mendung. Perasaan malu, kesal, dan kecewa berkecamuk jadi satu. Rasanya ingin secepatnya hilang tertelan bumi.

   "Elo kok gak bilang dari awal kalau kalian masih saudara?"

   "Lha, elo gak nanya!"

   Mey gemas mendengar jawaban seperti itu.

   "Mey, sorry gue gak bermaksud buat nyakitin elo. Gue cuma mau elo sadar dan ngeliat kenyataan ini. Karena selama ini gue perhatiin elo udah berubah. Masih banyak hal penting yang mesti elo pikirin. Soal ujian, cita-cita, dan terutama masa depan elo sendiri."

   "Gak apa-apa Yus, gue yang mestinya terima kasih sama elo, karena udah nyadarin diri gue."

   Keduanya terdiam cukup lama.

   Sampai akhirnya…

   "Mey, gimana kalau elo yang jadi fotografernya pas dia nikah nanti, elo kan punya kamera bagus dan hobi ngeker."

   "Hah! Gak…gue gak mau…!" Mey teriak kaget.

   "Lho, kenapa?  Elo Masih patah hati, gak rela?"

   "Bukan gitu maksud gue, Yus!"

   "Trus…!"

  "Elo kan tahu, gue masih belajar, masih amatiran, takutnya nanti hasilnya malah mengecewakan!"

    "Tenang Mey, elo tahu kan fotografer profesional, Damon Rizki?"

    "Iya, trus apa hubungannya?" Mey penasaran.

   "Sebenarnya gue mau ngambil layanan Lighthouse Photography miliknya. Jadi nanti elo bisa belajar banyak dari Damon. Syukur-syukur bisa nyaingin dia kan?"

    "Hah! Yang bener Yus, kalau gitu gue mau…!"

    Mey teriak histeris.

    Yus bengong.

    Seekor kucing tersentak kaget, kemudian lari terbirit-birit. 

 

 

UncategorizedOctober 21, 2008 11:37 am

Berpuluh mata memandangmu

takjub…

Karena dalam diammu yang seperti emas

Berjuta kata yang tersimpan

Di setiap mimpimu 

Sanggup kau kibarkan

Dalam wujud khayalku

Sementara aku masih butuh waktu

Untuk merangkai kalimat demi kalimat

Menjadi prosa yang tak lagi membosankan

Bahkan tatkala aku masih tertatih berjalan

Kau berikan tarian yang indah di atas awan

_______________________________________________________________

 

Setitik kegembiraan semilir

Bersama buncah yang melumuri dada

Sempurna khayalpun beranjak

Namun tak sedetik, lalu…

Mesti terantuk kenyataan

Hingga kebahagiaan menukik

Menuju bumi air mata

Pias wajahnya mewarnai

Tajam matanya menghujam tanah

Menebah debu yang berbisik iba

"Haruskah lelaki angkuh itu menebarkan kesombongannya?"

Tanyanya…

Ia kesal…

Ia tertekan…

Hatinya gamang

"Akan kubuktikan bahwa akupun punya jiwa pemimpi."

Bisiknya. 

 

UncategorizedOctober 2, 2008 7:18 am
HALTE
 
    Jam sebelas malam cafe’ mang Papay baru saja tutup. Sejak dia membuka cafe’ di lokasi yang sangat strategis itu, banyak sekali tamu yang mampir. Kebanyakan adalah para pengusaha, profesional muda, dan tidak sedikit wanita karier yang selalu mampir. Kebanyakan alasannya selalu sama: Menunggu kemacetan reda.
    Memang pembangunan di kerajaan Purbadewa cukup pesat. Hal ini menuntut peningkatan sarana dan prasarana kehidupan. Contoh yang bisa dilihat setiap hari adalah masalah kemacetan. ini menunjukkan semakin "panen" nya bisnis kendaraan roda empat. Makin bersainglah para pengusaha otomatif, bukan cuma itu, konsumen pun juga ikut bersaing. Siapa yang mobilnya paling mewah, dan tentunya, siapa mobilnya yang paling mahal, tak pernah terbayangkan kalau akhirnya mereka dipaksa berpikir untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. mereka yang lahir dari kalanngan mapan menganggap pembangunan jalan kurang mendapat perhatian dari kerajaan. Apalagi mereka yang sering ke luar negeri, seperti ke New york atau Jakarta, mengangankan dibangunnya jembatan layang atau jalan tol. Padahal negeri Purbadewa belum semaju kota tersebut. Untuk membangun jembatan di dusun saja, masyarakat  mesti merelakan pohon kelapanya ditebang. Walaupun pohon kelapa itu merupakan satu-satumnya sumber penghidupan untuk menenangkan kepala. Beda lagi dengan kalangan pinggiran, "Terlalu banyak kendaraan pribadi yang masuk ke negeri kita!" katanya. Jelas saja kalau jalan yang sudah cukup luas itu tak pernah memadai.
    Tapi kondisi seperti ini jelas menguntungkan mang Papay. Karena menghindari macet, akhirnya kebanyakan pemakai kendaraan pribadi "mesti" mampir dulu ke cafe’nya: menunggu jalanan sepi. Setelah jam sembilan malam biasanya mereka berangsur-angsur meninggalkan cafe’ tersebut. Sekali lagi, mang Papay memang pandai membaca peluang!
    "Belajar bisnis dari mana mang?" tanya salah seorang tamu cafe’ yang masih tersisa. Menurut pengakuannya ia adalah seorang broker dari sebuah perusahaan asuransi, sekedar tahu saja bisnis asuransi pun sedang berkembang pula di negeri Purbadewa.
    "Tidak dari mana-mana, mungkin sudah takdir saya mesti membuka usaha seperti ini." Kadang mang Papay suaka rendah hati.
    "Ah, kalau tak pernah belajar, saya pikir tak mungkin mamang bisa punya ide mahal seperti ini. Ingat lho, di negeri ini cuma mamang saja yang punya cafe’. Saya pikir, pasti mamang pernah mengambil kursus-kursus atau mungkin ikut seminar tentang pemasaran. Benar begitu?" pekerjaan sebagai broker memang harus pandai memuji calon sasarannya.
    "Tidak pernah! saya cuma pensiunan petani."
    "Benar! mang Papay tidak pernah sekolah tinggi-tinggi, cuma sampai tingkat sekolah dasar saja." mang Odon bicara apa adanya. Dia belum bisa santai kalau tamu terakhir malam ini belum juga pulang.
    "Lalu dari mana mamang dapat ide buka cafe’?"
    "Oh, kalau itu sih datang begitu saja waktu dengar kabar akan ada penggusuran dan pembangunan jalan alternatif di sekitar sini. Tapi sebenarnya, kalau saja tidak pernah membaca koran media Purbadewa, mungkin ide seperti ini tak pernah muncul." mang Papay memang lugu untuk bicara dengan orang yang kelihatannya berasal dari kalangan mapan.
    "Oh, dari koran…memang mamang langganan koran?" Sebenarnya tamu ini broker atau wartawan ya?
    "Kebetulan teman saya kerja di penerbit koran itu. jadi dapat gratisan, begitu…,he he he, biasa kan, kalau kita punya teman untuk urusan yang pas, bisa mudah mendapatkannya. hitung-hitung memanfaatkan jalur, begitu mungkin…" mang Odon yang menyahut. mang Papay cuma senyum saja mendengar celetukan mang Odon.
    "Saya pernah baca, di kota-kota besar, seperti Jakarta misalnya, sekarang sedang musimnya orang bisnis cafe’. kelihatannya maju pesat…" tamu ini menyambung pembicaraan sekenanya. Sebisa mungkin ada yang dicengkramakan. mungkin dia belum mau beranjak dari cafe’ mang Papay.
    "Koran kapan? setahu saya dalam satu bulan ini media Purbadewa tak pernah memuat berita tentang itu? kalaupun pernah ada, ya kira-kira tiga bulan yang lalu, kalu tidak salah sih…" mang Papay hafal benar isi berita yang dimuat di koran andalan negeri Purbadewa itu. maklum, setiap pagi dia tak pernah ketinggalan untuk sarapan dengan koran itu.
    "Ng… mungkin saya lupa di koran mana saya bacanya ya…" tangan kanan tamu itu memegang janggut dan kepalanya mengangguk-angguk, seperti orang yang sedang mengingat-ingat sesuatu. Sebenarnya seorang broker tak boleh kelihatan gugup di depan calon nasabahnya.
    "Mau pulang jam berapa? sudah tengah malam, mas?!" mang Odon sudah tak sabar ingin istirahat. namun tamu yang satu ini sepertinya tak mengerti body language. Jadi terpaksalah ia bicara agak terkesan mengusir. biasanya mang Papay suka menegur mang Odon kalau bicara kasar terhadap pelanggan. tapi malam ini sepertinya ia mesti memuji mang Odon, sebab ia pun sudah jenuh meladeni tamu-tamunua sejak siang hari.
    "Oh iya, maaf saya harus lekas pulang, takut besok terlambat ke kantor." Tamu ini bingung, antara tersinggung dan berterima kasih karena ucapan mang Odon tadi. Ia tersinggung karena merasa diusir, tapi merasa tertolong karena malu ketika nyaris ketebak kalau omongannya tentang cafe’ di koran media Purbadewa tadi cuma asal bunyi saja. Lantas ia bertolak dari kursinya, keluar…
    "Begitulah kalau orang tak pernah membaca tapi sok tahu…" umpat mang Odon setelah yakin kalau mesin mobil tamu tersebut sudah menggerung.
    "Kalau dilihat dari penampilannya sih, sepertinya tak mungkin dia tak mampu membeli koran atau buku." mang Papay menanggapi umpatan mang Odon sambil menyusun gelas yang baru selesai dicuci ke rak.
    "Membeli atau tidak, itukan tergantung ada atau tidak minat buat membaca."
    "Bukannnya tergantung punya uang atau tidak?!"
    "Kalau orang punya minat yang kuat, apalagi kalu kegiatan membaca itu sudah menjadi kebutuhannya, uang itu menjadi urusan nomor dua."
    "Ah, teori…"
    "Lho, ini bukan sekedar teori. Bisa saja kan pinjam dari teman, atau ke perpustakaan, atau cari-cari gratisanlah, seperti kamu ke Parikesit."
    "Wah, kalu semua orang seperti itu, bisa gawat. Makin banyak saja orang yang terjangkit kleptomania."
   "Kamu jangan menggeneralisasikan masalah dong. Tidak semua orang yang tak punya uang punya kebiasaan mencuri atau meminjam buku tanpa ijin pemiliknya. Mereka yang beruang juga ada yang begitu."
    "Benar juga sih. Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa orang-orang yang secara ekonomis mampu membeli kendaraan, tapi untuk sebuah buku atau surat kabar saja tak bisa?"
    "Ya, seperti yang aku bilang tadi, tergantung minat atau kebutuhannya dong. Mungkin mereka merasa kalau membaca buku itu hanya menghabiskan waktu untuk bersepi-sepian. Sangat melelahkan sekali, sementara itu perkembangan tekhnologi informasi melalui media elektronok semakin canggih. Mereka lebih memilih cara yang lebih praktis untuk mendapatkan informasi, bisa lewat radio atau televisi."
    "Aku jadi bingung, sebenarnya berkembangnya tekhnologi informasi elektronik itu memajukan atau memundurkan masyarakat ya?" mang Papay benar-benar bingung dalam masalah satu ini.
    "Tergantung kamu memandang dari sudut mana, kalau dari kemajuan teknologi, jelas itu merupakan tunturtan zaman. Apalagi dalam menuju abad kesejagadan, teknologi informasi, terutama media elektronik menjadi sangat penting, karena dengannya bisa menyebarkan berita lebih aktual dan cepat." jawab mang Odon tangkas dan percaya diri.
    "Aku percaya. Tapi kondisi demikian justru malah semakin membentuk setiap individu menjadi masyarakat yang praktis, serba ingin cepat, instant! Ini membuat masyarakat terbiasa dengan budaya lisan. Padahal buat saya, itu kurang baik. Kondisi itu hanya menciptakan masyarakat yang tidak memiliki modal berpikir yang mapan yang sesungguhnya sangat dibutuhkan untuk menyongsong era kesejagadan itu. Kita mesti membentuk masyarakat uyang sistematis dan dinamis, dan untuk itu, kerangka berpikirnyapun harus disistemasikan. Hanya dengan membudayakan baca-tulislah masyarakat seperti itu bisa tercipta. Mang Papay lebih percaya diri lagi menanggapi tanggapan mang Odon. Mereka sampai lupa menutup pintu cafe’ yang sejak siang tadi masih menganga.
    "……" mang Odon mikir sejenak. Mang Papay menyulut sebatang rokok…mikir juga.
    "Kalau begitu sebenarnya dua-duanya sama-sama penting. Kita tak bisa menafikan salah satunya. Antara budaya baca-tulis dan budaya bicara-dengar, harus diseimbangkan. Begitu mungkin, ya?" Tak sia-sia mang Odon meluangkan waktu sejenak untuk berpikir.
    "Tapi saya pikir sangat sulit sekali. Kondisi ini sangat dilematis sekali. Bisakah kita memajukan masyarakat kita dengan dua tuntutan masa depan tersebut?"
    "Inilah PR bangsa kita. Menurutku pembudayaan baca-tulis dan tuntutan perkembangan teknologi informasi mesti bisa berjalan seiring, menjadi simbiosis mtualisma, begitu." Mata mang Odon semakin terang, kantuk dan lelahnya terlupakan kalu sudah terlibat dalam suatu perbincangan, terutama dengan mang Papay.
    "Sejak sering membaca, kamu jadi sering bicara pakai istilah-istilah ilmiah, bahasa susah, kalau kata Resi Palastra, biar dianggap pintar ya?" mang Papay nyelenah.
    "Ah, bukan begitu. Itu cuma pengaruh baca saja. Parikesit juga suka begitu."
    Mereka masih terus bercengkrama. Tak terasa hari sudah menjelang subuh dan pintu cafe’ masih juga ternganga. Parikesit tak pulang malam ini.
 
 
Bagi saya membaca dan menulis bukan hanya sekedar hobi lagi, tapi sudah merupakan kebutuhan. Saya tidak bisa tidak membaca… 
Uncategorized 4:45 am

Hari terakhir di bulan Ramadhan.

Sedihnya ditinggal Ramadhan…hiks..hiks..

 

"Kulihat RAMADHAN dari kejauhan…

Kudekati lalu kusapa ia, hendak ke mana?

Dengan lembut ia berkata, kuharus pergi, mungkin jauh dan sangat lama…

Tolong sampaikan pesanku untuk si MUKMIN.

Mukmin, SYAWAL akan tiba sebentar lagi, ajaklah SABAR untuk temani hari-hari duka.

Peluklah ISTIQOMAH saat dia kelelahan dalam perjalanan TAQWA.

Bersandarlah pada TAWADHU saat kesombongan menyerang, menantang.

Mintalah nasihat dari QUR’AN dan  SUNNAH  di setiap masalah  yang dihadapi

Sampaikan pula salam dan terima kasih karena telah menyambutku dengan suka cita,

Kelak akan kusambut ia di SURGA dari pintu ARROYAN…"

 

Tetesan bening mengalir di pipi…Allohumma, semoga Engkau berkenan mempertemukan kembali di Ramadhan berikutnya… 

 

UncategorizedSeptember 27, 2008 8:34 am

EPISODE CINTA

Oleh : Azura

 

Tuhan dulu pernah

Aku menagih simpati

Kepada manusia

Yang alpa jua buta

 

Lalu terheretlah

Aku di lorong gelisah

Luka hati yang berdarah

Kini jadi kain parah

 

…..

 

Lantunan nasyid Mengemis Kasih The Zikr kembali mengusik kegalauanku dan melemahkan seluruh urat nadiku. Aku tersindir? Mungkin.

Dulu aku punya cinta. Fitrah sebagai manusia. Cinta itu selalu ada. Namun bagaikan angin dia mudah datang tapi dengan cepat ia pergi.

 

Sepuluh tahun yang lalu saat kunikmati pagi sambil berpuisi.

”Ri, maukah kau menikah denganku?”. Jo, seorang teman yang telah aku jadikan sebagai sahabat tiba-tiba merusak hariku. Aku pikir dia hanya sekedar main-main.

”Mau kau jadikan istri yang ke berapa?”, candaku sambil mengingat sejumlah nama perempuan yang selalu menghiasi hidupnya.

”Aku serius, aku ingin berubah menjadi orang yang baik, yang alim. Aku berharap kau mau membimbingku nanti.” Dan aku melihat keseriusan di wajahnya. Sekilas kuperhatikan penempilannya yang mirip preman. Jaket lusuh, celana jeans yang sengaja dilubangi, rambut gondrong, sedikit tatto di lengannya dan di sela jarinya terselip sebatang nikotin yang masih utuh. Dia tidak akan berani menghisapnya di depanku. Kuhela nafasku, sejenak kukumpulkan keberanianku untuk mengatakannya. Pelan, kuberusaha untuk tidak menyakitinya.

”Aku menginginkan seseorang yang dapat membimbingku dan bisa kujadikan qowam untukku. Bukan sebaliknya. Lagipula aku masih muda. Belum pernah terbersit olehku untuk segera menikah. Jadi maaf.”

Kulihat bias kekecewaan di matanya. Maafkan aku, sebenarnya aku punya cinta tapi bukan untuknya. Melainkan untuk sahabatnya yang juga sahabatku. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan kakak karena usianya yang lebih tua di atasku.

Kakak, yang selau setia mengirimkan puisi-puisi penggerak jiwa dan membangkitkan semangatku. Aku punya cinta untuknya meski dengan mudah cinta itu hilang saat dia pergi menemukan labuhan hatinya. Dan itu bukan aku.

 

Tiga tahun kemudian di suatu senja. Seseorang yang aku harapkan dapat membawaku ke surga kelak. Dia datang denga segenggam janji.

”Aku ingin menikah denganmu. Tapi aku harus menunggu kakak perempuanku. Mungkin dua tahun lagi. Maukah kau menunggu?”

Kutatap matanya yang bertabur asa. Aku merasa kecewa, direndahkan dan harga diriku terkoyak, bukan karena permintaannya. Tapi karena aku merasa berbeda. Setelah sekian lama ku memasuki dunia tarbiyah, aku mengalami banyak perubahan. Aku tidak tahu dengan takdir Allah nanti. Dan aku tidak ingin membayangkan apa yang terjadi selama dua tahun. Hubungan tanpa status? Tiba-tiba dadaku terasa perih. Kutahan segenap perasaanku.

”Aku tidak akan pernah menunggumu selama itu. Kalau memang Allah berkehendak, suatu saat kita akan dipertemukan oleh-Nya. Dan jika engkau menemukan orang yang pantas untuk mendampingimu, aku tak akan menghalangimu.” tegasku. Kurasakan wajahku yang memanas. Cinta yang selama ini aku punya lenyap seketika. Dan anginpun membawanya pergi hingga tak pernah kutahu keberadaannya lagi.

 

Tiga tahun berselang. Cinta itu datang dengan tiba-tiba. Tanpa kutahu dari mana awalnya. Bukan karena wajahnya yang mirip Leonardo De Caprio. Tapi lebih pada soal pandangan hidup, latar belakang, hobi, dan impian yang sama, yang menyebabkan aku merasa nyaman ada di dekatnya. Aku tahu ini salah. Tapi aku tak bisa menghilangkan kecenderunganku untuk, paling tidak bersimpati kepada lawan jenis.

”Janganlah  kau menanam benih di ladang yang terlarang. Karena suatu saat kau akan mendapat murka-Nya. Apakah kau mau dikalahkan oleh nafsumu? Apakah kau mau terperosok dalam jurang kemaksiatan? Bukankah persahabatan akan lebih bermakna daripada jalinan kasih yang tidak diridhoi?”. Ucapnya ketika terakhir kali bertemu.

Usianya lebih muda dariku, tapi rangkaian kalimatnya mampu membuat wajahku memerah menahan malu. Seolah dia mempunyai telepati yang tinggi hingga mampu membaca pikiran dan perasaanku. Padahal aku hanya sekedar punya sepotong cinta yang akan kupersembahkan untuknya nanti. Dan kini aku tak kuasa untuk mendengar kalimat-kalimat berikutnya yang seolah ingin menelanjangiku. Esoknya, dia pergi tanpa meninggalkan bekas, setelah selama enam bulan persahabatan. Ada rasa kehilangan yang memunculkan perasaan halusinasi, seolah dia selalu ada di dekatku. Hingga aku tersadar bahwa rasa yang kupunya elah hancur berserak bersama pecahan cermin.

 

Setahun yang lalu. Aku menatap hampa selembar kertas yang berisi biodata seseorang bersama selembar foto ukuran 2x3. Ada orang asing yang ingin masuk dalam kehidupanku.

Hari berlalu. Meski aku sudah tak punya cinta lagi untuk kupersembahkan, tapi aku menyambut uluran tangannya.

Dan malampun terus terlewati. Mungkin karena aku sudah tak punya cinta lagi. Ketika ia membatalkan niatnya, aku sudah tak peduli. Tak ada sesal, sedih, maupun kecewa.

 

Seperti air di kota hujan. Langit selalu menurunkan gerimisnya meski di musim kering. Dan cinta itu selalu ada. Kini kupunguti kembali serpih-serpih cinta yang sempat terserak.

Uncategorized 8:10 am

sahabat…

mengenalmu adalah sebuah kesyukuran

bersahabat denganmu adalah

karunia yang tak tergantikan

perhatianmu…

menjadi sebuah kekuatan 

 

 

Uncategorized 6:56 am

Laylatul Qodr

 

Kubuka lebar-lebar

Hati dan jiwa

Agar para malaikat

Berkenan tuk menyapa

Dalam sujud panjangku

Di malam ke dua puluh tujuh

Ya Rahman…ya Rahim…

Ya Malikul Qudus…

Ya Kabir… ya Ghofur…

Takkan kuhentikan

Tuk sebut asma-Mu

 

 

Ramadhan

 

Waktu terus bergulir

Ramadhan segera berakhir

Ada luka yang terus terukir

Ada sedih yang terus mengalir

Ya Allah selamatkanlah kami

Hingga bulan Ramadhan ke depan

Dan pertemukan untuk bulan Ramadhan

Dan terimalah seluruh amal kami di bulan Ramadhan 

 

Uncategorized 6:44 am

Bagi orang yang dibesarkan dalam kebudayaan lisan, pusat dunianya adalah komunalitas masyarakatnya. Kebudayaan lisan adlah kebudayaan mulut dan kuping. Hidup dalam kebudayaan lisan berarti hidup dalam keramaian. Karenanya ia dituntut untuk banyak mendengar.

Sedangkan orang yang dibesarkan dalam kebudayaan tulisan (baca: kebudayaan buku), pusat dunianya adalah ruang kerja dan perpustakaannya. Kebudayaan buku adalah kebudayaan mata dan huruf. Hidup dikelilingi buku berarti hidup dalam kesepian. Karenanya yang dituntut adalah banyak melihat dan menyusun huruf: dari pembaca menjadi penulis dan penulis yang menjadi pembaca. Sekali lagi, kebudayaan buku adalah kebudayaan kesepian yang diperuntukkan bagi kesepian.

Mampukah kita memadukan kedua unsur tersebut…?

Kutunggu komentar kamu, send to dari_azura@yahoo.com 

 

 

UncategorizedSeptember 23, 2008 3:02 pm

Dunia Cuma Sarana 

Segala puji hanya bagi Allah SWT yang menjadikan kehidupan dunia sebagai ujian bagi hamba-hamba-Nya. Untuk dipilih mana yang paling baik prestasinya. hamparan kesenangan dunia yang menghiasi hidup kita, harta, tahta, wanita, emas, intan, permata, rupiah, xenia, dan avanza. Kesibukan kerja dan sederet kebutuhan hidup lainnya, tak kita sadari kadang menguras seluruh potensi kita. Adakalanya kita sadar lalu menjadikan itu semua sebagai bentuk ibadah kita, namun tidak sedikit di antara kita yang terlena lalu terseret pada kelezatan dunia semata, dengan menikmati kemapanan dan kenyamanan dan tidak berbuat apa-apa, Astaghfirulah… 

Deretan profesi yang terbentang antara siang dan malam yang membujur dalam sifat-sifat dan praktek-praktek kerja mulai dari instansi pemerintah dan swasta, di pabrik dan perusahaan, bisnis dan perdagangan, pengusaha atau kuli biasa, dokter, guru, polisi, dan profesi lainnya, adalah amanah yang sangat bermakna, namun tak kita sadari, semua itu kadang  menguras potensi kita dan lagi-lagi kita tak bisa berbuat apa-apa. Astaghfirullah wa atubu ilayh…

Rasul SAW mengingatkan pada diri kita akan amanah itu dengan sebuah pertanyaan: "Fama fa’alta fiha?" (apa yang kau perbuat dengan amanah itu?)

Ya Allah, jadikan dunia ini hanya di tangan kami, dan jangan jadikan ia menguasai hati, jadikan ia sebagai sarana meraih cinta-Mu, dan jangan jadikan ia menyesatkan kami.